Blogger Widgets Blogspot Tutorial
Blogger Templates
Create your own banner at mybannermaker.com!

Visitors

Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan

KPK itu adalah ...

One year before... (December, 2013)

Suatu pagi, saat pelajaran matematika...
Saya mereview materi yang sudah dipelajari sebelumnya dan menanyakan beberapa pertanyaan kepada anak-anak.

Saya: " Ada yang masih ingat ngga, KPK itu apa ya? coba A**** KPK itu apa?"
A**** : (kaget, terdiam sejenak, sambil menerawang ke atas)
Saya: " Ayo A**** apa jawabannya?"
A**** : (dengan polosnya menjawab): "Kelipatan yang banyak kutunya, ustazah..."
Anak-anak yang lain: XD...XD...XD....XD....
(sambil ngomong macem-macem ke si A*****)
Saya: "...................." ( speechless)


One month before December....

Salah seorang teman sesama guru bercerita kepada saya dan juga teman-teman guru yang lain tentang pengalamannya saat mengajar anak-anak. Saat ia mengoreksi lembar jawaban ulangan anak-anak, ia menemukan sebuah jawaban yang membuatnya tergelitik dan tertawa, termasuk saya dan teman-teman guru yang lain...

Soalnya seperti ini, "Bentuk pemerintahan Indonesia adalah... "

Wajar Kan Kalau Kita Begitu....

Jum'at pagi yang cerah dan ceria, percakapan singkat seusai senam pagi...

Aku duduk di piggiran lapangan bersama guru yang lain, sedangkan anak-anak duduk lesehan di lapangan, kami mendengarkan pengarahan dari salah seorang guru. Ttiba-tiba pandanganku menangkap dua orang murid yang lalu lalang di depanku, dan salah satunya sambil minum.

Me: "Hayoo.... kok minumnya sambil jalan-jalan sih? sholeh banget ya...."J   : (datang menghampiriku), "Ustazah.... ustazah...., ustazah juga pernah kan minum sambil berdiri?"Me: "Nggak pernah..." (sambil menggelengkan kepala).
J   : :Waktu kecil emangnya ustazah nggak pernah minum berdiri? (kemudian tertawa, tapi bukan mengolok, memang gayanya seperti itu)
Me: (JLEB..., wah, kena lagi nih, memang ya nih anak kritis banget, suka protes kalo ada hal-hal yang gak baik,).
      "Ya..."
(sambil mengangguk pelan), "Tapi ....."  (Baru saja aku mau melanjutkan dan memberikan  penjelasan, J sudah langsung memberikan komentarnya...)
J  :"Nah tu, coba ustazah bayangin, ustazah aja dulu begitu, apalagi kita muridnya ustazah, jadi wajar kan kalau kita juga mencontoh gurunya".
Me: (mau ngelanjutin ngasih penjelasan 'n membela diri, tapi ga jadi, malahan aku nahan supaya ga tersenyum/tertawa di depan muridku itu, karena cara bicara dan ekspresinya itu unik 'n lucu).

Jum'at, 5 September 2014

Itu Bukan Sampah Kita Ustazah, tapi ........

Pagi itu, seperti biasanya, aku mampir ke kelasku, walaupun sebenarnya nggak ada jam ngajar saat itu. Niatnya sih hanya ingin mengambil jurnal kelas dan menyerahkannya ke staf TU untuk direkap. Memang suasana hatiku saat itu sedang tak baik, bad mood dan agak sedikit sensi, jadi jika ada sedikit saja sesuatu yang tidak kusukai atau tidak pas di hati, bisa langsung buat aku kesal dan marah. Dan ternyata pemandangan yang ku lihat di kelasku saat itu, benar-benar membuat aku kesal. Kelas kotor (walaupun sebenarnya sih, ngga kotor-kotor banget, tapi tetep aja aku ngga suka kalau berantakan & kotor), sampah bertebaran di mana-mana, bahkan ada bekas kotak minuman dan bungkus permen karet di meja guru. Spontan saja aku langsung meluapkan rasa ketidaksukaanku itu.

Aku (dengan nada kesal): "ya Allah, kelasnya kok bersih banget ya, sampah betebaran dimana-mana, masih kurang bersih ini"
Murid-muridkuku (ga tau siapa aja yang ngomong, anggap aja namanya si A dan si B):
A: "bukan saya itu ustazah",
B: "saya tadi udah nyapu ustazah pagi-pagi pas baru datang".
Aku: "ini juga ada di atas meja guru, coba lihat, bagus ngga kayak gini? bekas minum siapa ini?"
J: " itu bukan sampah kita ustazah, itu punyanya ustazah ****, tadi ustazahnya minum pas ngajar, nggak dibuang sampahnyaustazah ".
Aku: (Deg, kaget, terdiam, ini gurunya..., bukan muridnya...., gmn aku mau negur anak-anak)
J&A: "gimana itu ustazah, ustazahnya aja gitu..."
Aku: (masih memikirkan penjelasan yang tepat tuk anak-anak, tapi bingung juga): "ya udah, ustazah minta tolong deh, tolong buangkan ini ke tempat sampah ya, kan beramal sholeh"

Sungguh bagiku, kejadian kecil di atas begitu banyak memberikan pelajaran sekaligus teguran buatku dan juga buat kita, para guru. Satu hal, keteladanan guru. Murid adalah cerminan gurunya, pendapat ini benar-benar terbukti. Disadari atau tidak, ada keterikatan hubungan emosional antara guru dan murid. Itulah sebabnya, murid akan cenderung berperilaku mirip dan tidak jauh berbeda seperti gurunya.
Jika kita terbiasa menunda-nunda pekerjaan maka murid kita bisa menjadi pribadi yang malas mengerjakan PR.
Jika kita terbiasa berbicara sendiri saat berada di forum/rapat maka saat kita menjelaskan pelajaran/berbicara di kelas, kita tidak akan didengarkan oleh murid kita.
Jika kita tidak teliti dalam mengerjakan sesuatu maka bisa jadi murid kita tidak teliti dalam menjawab soal.
Jika kita tidak pernah/jarang membaca buku, maka murid kita akan mals membaca buku.
Seperti itulah kira-kira cerminan diri seorang guru yang terlihat pada muridnya. Aku sendiri pun merasakan itu,.

Bagaimana mungkin seorang guru bisa menasehati muridnya jika ia tidak bisa memberikan keteladanan. Terkadang guru menuntut banyak hal dari siswanya, namun sayangnya kita sebagai guru terkadang lupa mereka, murid-murid kita, tidak meniru apa yang kita ucapkan tapi merekam dan mencontoh apa yang kita perbuat.. Kita tidak bisa meminta orang lain melakukan sesuatu yang kita sendiri pun tak pernah melakukannya.

Be a true teacher!

Mencintai Penanda Dosa

By: Salim A.Fillah

Setelah bertaburnya kisah kebajikan, izinkan kali ini saya justru mengajak untuk menggumamkan keluh syahdu itu dengan belajar dari jiwa pendosa. Jiwa yang pernah gagal dalam ujian kehidupan dariNya. Mengapa tidak? Bukankah Al Quran juga mengisahkan orang-orang gagal dan pendosa yang berhasil melesatkan dirinya jadi pribadi paling mulia? Musa pernah membunuh orang. Yunus bahkan sempat lari dari tugas risalah yang seharusnya dia emban. Adam juga. Dia gagal dalam ujian untuk tak mendekat pada pohon yang diharamkan baginya. Tapi doa sesalnya diabadikan Al Quran. Kita membacanya penuh takjub dan khusyu’. “Rabb Pencipta kami, telah kami aniaya diri sendiri. Andai Kau tak sudi mengampuni dan menyayangi, niscaya jadilah kami termasuk mereka yang rugi-rugi.” Mereka pernah menjadi jiwa pendosa, tetapi sikap terbaik memuliakan kelanjutan sejarahnya.

Kini izinkan saya bercerita tentang seorang wanita yang selalu mengatakan bahwa dirinya jiwa pendosa. Kita mafhum, bahwa tiap pendosa yang bertaubat, berhijrah, dan berupaya memperbaiki diri umumnya tersuasanakan untuk membenci apa-apa yang terkait dengan masa lalunya. Hatinya tertuntun untuk tak suka pada tiap hal yang berhubungan dengan dosanya. Tapi bagaimana jika ujian berikut setelah taubat adalah untuk mencintai penanda dosanya?

Belajar Dari Keledai

Suatu hari keledai milik seorang petani jatuh ke dalam sumur. Hewan  itu menangis dengan memilukan selama berjam-jam, sementara si petani memikirkan apa yang harus dilakukannya.  Akhirnya, Ia memutuskan bahwa hewan itu sudah tua dan  sumur juga perluditimbun (ditutup - karena berbahaya); jadi tidak berguna untuk menolong si keledai. Ia mengajak tetangga-tetangganya untuk datang membantunya.
Mereka membawa sekop dan mulai menyekop tanah ke dalam sumur. Pada mulanya, ketika si keledai menyadari apa yang sedang terjadi, ia menangis penuh kengerian. Tetapi kemudian, semua orang takjub, karena si keledai menjadi diam. Setelah beberapa sekop tanah lagi dituangkan ke dalam sumur, si petani melihat ke dalam sumur dan tercengang karena apa yang dilihatnya. Walaupun punggungnya terus ditimpa oleh bersekop-sekop tanah dan kotoran, si keledai melakukan sesuatu yang menakjubkan. Ia mengguncang-guncangkan badannya agar tanah yang menimpa punggungnya turun ke bawah, lalu menaiki tanah itu. Sementara tetangga-2 si petani terus menuangkan tanah kotor ke atas punggung hewan itu, si keledai terus juga menguncangkan badannya dan melangkah naik. Segera saja, semua orang terpesona ketika si keledai meloncati tepi sumur dan melarikan diri !

Batu dan Bisikan


Suatu ketika, tersebutlah seorang pengusaha muda dan
kaya. Ia baru saja membeli mobil mewah, sebuah Jaguar
yang mengkilap. Kini, sang pengusaha, sedang menikmati
perjalanannya dengan mobil baru itu.
Dengan kecepatan penuh, dipacunya kendaraan itu
mengelilingi jalanan
tetangga sekitar.
Di pinggir jalan, tampak beberapa anak yang sedang
bermain sambil melempar sesuatu. Namun, karena
berjalan terlalu kencang, tak terlalu diperhatikannya
anak-anak itu. Tiba-tiba, dia melihat sesuatu yang
melintas dari arah mobil-mobil yang di parkir di
jalan. Tapi, bukan anak-anak itu yang tampak melintas.
Aah..., ternyata, ada sebuah batu yang menimpa Jaguar
itu. Sisi pintu mobil itupun koyak, tergores batu
yang dilontarkan seseorang.
Cittt.... ditekannya rem mobil kuat-kuat. Dengan
geram, di mundurkannya mobil itu menuju tempat arah
batu itu dilemparkan.

Ayam dan Babi

Oleh Al Imam
Pada suatu hari Imam Muhammad Abduh mengunjungi Prancis, negara yang masyarakatnya menjadikan babi sebagai hidangan pokok. Mereka bertanya mengenai rahasia diharamkannya babi. Mereka berkata, "Kalian (umat Islam) melarang memakan babi, karena dia memakan kotoran yang mengandung cacing pita, bakteri, dan mikroba lainnya. Kalian lihat di sini babi dipelihara secara intensif, sehingga mereka tidak memakan kotoran. Tuan lihat kami pun melakukan pengecekan kesehatan secara periodik, sehingga kesehatan mereka betul-betul terjamin. Maka, anggapan bahwa mereka menyebarkan penyakit adalah tidak benar."
Dengan kecerdikannya, Muhammad Abduh berkata, "Tolong sediakan dua ekor ayam jantan dan satu ekor ayam betina. Kemudian sediakan juga dua babi jantan dan seekor babi betina." Mereka heran dan bertanya, "Untuk apa?" Muhammad Abduh menjawab, "Sediakan saja, maka saya akan memperlihatkan suatu rahasia."
Setelah hewan-hewan itu disediakan, Muhammad Abduh meminta agar dua ekor ayam jantan itu dilepas bersama seekor betina. Maka, dua ekor ayam jantan itu bertarung memperebutkan betina, sehingga salah satunya hampir mati. Lantas beliau meminta kedua ayam itu dikurung, dan meminta supaya kedua babi jantan dilepaskan bersama dengan babi betina.